Nyanthing

Berbagi indahnya hidup

Wednesday, November 08, 2006

Ketupat Syawal…..

Datangnya bulan Syawal selalu excited buat saya. Sudah jadi tradisi di rumah bila Lebaran menjelang kesibukan akan dimulai dari H-2 siang. Biasanya ibu saya sudah beli janur kuning beberapa puluh lembar yang kemudian kami buat sendiri kelongsong ketupatnya.
Pak Wo lah orang yang selalu melakukan pekerjaan itu. Pak Wo adalah sebutan untuk mbah kakung saya dari bapak. Dari beliaulah saya belajar membuat kelongsong ketupat sambil “ngebuburit” di hari-hari puasa terakhir. Karena biasanya hari-hari terakhir puasa ngebuburit di Yogya sudah nggak ramai. Pasalnya yang jualan kolak sudah pada mudik.
Satu hal lagi yang istimewa, walaupun ada kompor gas, kompor minyak tanah, dan arang, Pak Wo lebih suka memasak ketupatnya memakai kayu bakar. Kelongsong ketupat diisi beras dan dimasak semalam suntuk supaya ketupatnya “tanak” sehingga tidak mudah basi.
Dan yang paling saya tunggu adalah cerita masa lalu pak Wo yang penuh dengan perjuangan selalu menyertai kegiatan ini. Kisah perjalanan “karier” pak Wo sebagai tukang “nuntun” sapi di sebuah jagalan itu bila diibaratkan sebuah komik, dalam imajinasi saya merupakan komik berwarna yang indah. Tangan kekar Pak Wo terbiasa “nggeret” belasan sapi, kaki kokohnya terbiasa berjalan dari Pasar Munggi, Pasar Prambanan, Pasar Pedan, dan Pasar Pengging sampai Jogja. Mata tajamnya terbiasa menemani berlalunya malam. Konon di pasar hewan ini juga Pak Wo bertemu calon besan yang pedagang kerbau. Walaupun kisah ini sudah diulang-ulangnya puluhan kali, saya dan adik-adik saya tak pernah bosan mendengarnya.
Hanya saja beberapa tahun terakhir ini tugas itu sudah diambilalih oleh ibu saya.
Mengingat kondisi kesehatan Pak Wo yang sudah payah, jari-jari tangan yang sudah kaku, dan kaki yang sudah tidak bisa menopang tubuhnya untuk berdiri kokoh,
Tidak ada lagi acara “telling story”, tidak ada lagi begadang menunggui matangnya ketupat , tetapi sekedar ketupat opor untuk “punjungan” para sesepuh dan hidangan di hari raya masih dilestarikan untuk memuliakan sanak saudara.
Gimana dengan ketupat syawal anda, walau taste-nya sama pasti mempunyai sense yang beda….


5 Comments:

  • At 9:42 AM , Blogger diracov said...

    Jadi teringat pas KKN di kecamatan Prambanan dulu. Saya suka ngobrol dengan seorang mantan kadus yang sudah "sangat sepuh", yang sangat piawai bercerita tentang riwayat dusunnya. Ah, jadi kangen...

     
  • At 3:54 PM , Anonymous Anonymous said...

    Wah jadi inget mbah kakung almarhum di kebumen niy, hebatnya beliau yang punya 33 cucu tidak pernah lupa nama dan kerjaan/sekolah semua cucunya dan klo lagi ngumpul bareng cucu2nya pasti cerita masa mudanya, dan kami para cucu plus mbah putri pun mendengarkan sambil tertawa geli :)

    Mbah Kakung, we miss u sooooo much .....

     
  • At 3:12 PM , Blogger mei said...

    iya sama..aku juga jadi ingat mbah kung alm, sayangnya aku belum bisa ngasih beliau apa2 dan beliau dah di panggil oleh Tuhan.

    Padahal ingat banget, dulu pgn banget beliin kemeja batik...

     
  • At 11:34 AM , Blogger dewgf said...

    weks...update mba...

     
  • At 9:50 PM , Blogger masayu said...

    @dirac : KKN-nya dapat apa? A+ bukan?
    @arief fiadi: Wah mbah kakung KB ya... senengnya punya saudara banyak.
    @mei : saya suka memandang diem-diem Pak Wo, berharap akan terekam dalam memori saya untuk selamanya...(hiks....hiks...)
    @crushdew : iya nich.. gi stress... banyak janji, banyak acara..., malah mleset semua... puuusiiinng.

     

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home