Sprei
Benda yang satu ini membuat kita tidur lebih nyaman. Tapi ternyata nyaman saja masih belum cukup. Nilai estetikanya juga tak kalah penting. Keserasian sprei dengan warna dan tema kamar perlu diperhatikan. Tapi doktrin yang telah diberikan ibu saya, seprei adalah kain lebar yang dibentang di atas kasur untuk melindungi agar debu “kapuk” nya tidak “mubal” dan terhirup hidung saat kita tidur. Dipasang dengan cara membuat simpul di keempat ujungnya.
Dan sudah sejak lama memasang sprei adalah pekerjaan yang menyebalkan buat saya. Udah masangnya susah, kadang-kadang ukurannya nggak pas. Kalau kekecilan, ditarik ke atas bawah nggak tertutup, di tarik ke atas bawah “mlongo”. Bukan hal yang menyenangkan juga kalau ternyata spreinya kebesaran. Melipat ke bawah kasurnya susah dan rawan untuk bersarang ngengat, atau sisanya dibiarkan menjuntai jadi sarang debu. Kalau sudah begitu bisa-bisa satu bulan sprei nggak diganti. Gatel….? Nggak tau ya… Pasalnya setelah jadwal ganti sprei di-skip, saya memilih tidur di depan TV di ruang keluarga (he…he..).
Tapi pandangan itu jadi berubah sekarang. Ceritanya tiga hari sebelum lebaran saya diajak temen jalan ke Pasar Beringharjo. Temen mau nyari sprei. Sampai di sana temen saya sibuk milih warna dan corak yang sesuai dengan warna kamarnya. Yang nyebelin temen saya agak rewel, kalau warnanya cocok kainnya kurang halus, atau sebaliknya.
Saya akhirnya tertarik juga melihat sprei-sprei itu. Motif dan mutu kainnya sama dengan yang dijual di “Matahari” tapi dengan harga yang lumayan murah. Bagi saya memang harus ada yang dikorbankan. Nggak semua keinginan kita ada. Mau yang warnanya cocok, apa mutu kainnya. Karena memang adanya begitu.
Ukuran spreipun bermacam-macam, 100x200cm , 120x200cm, 180x200cm, dan masih juga ditambah ketebalannya 22,5cm untuk kasur “kapuk” atau busa yang biasa, dan 40 cm untuk springbed. Dan sudah diberi karet disetiap ujungnya. Padahal selama ini kalau ibu saya beli yang penting sprei besar atau kecil. Nggak pernah tahu ukuran tepat kasur masing-masing kamar. Dan hasilnya pun jelas selalu kebesaran.(ha..ha…maap Bu…)
Setelah saya ditanya ukuran berapa kasurnya, saya jadi bingung. Iya..ya saya nggak penah ngukur berapa lebar kasur saya. Akhirnya saya putuskan pilih yang ukuran 180x200cm. Karena saya pikir kasur saya lebar dan muat dua orang…(ehm….). Tapi dengan perjanjian kalo’ ternyata kebesaran atau kekecilan bisa ditukar.
Baru deh sampai rumah saya buru-buru ukur kasur saya. Masih belum percaya dengan hasil ukurnya kemasan sprei saya buka. Dan sprei saya pasang…olala… kebesaran sekali.
Keesokan harinya untuk menghindari macet dan panas, pagi-pagi saya ke Beringharjo buat nukar sprei. Ternyata harga 1 sprei ukuran 180x200cm dua kali lipat dari harga sprei 120x200cm (ukuran kasur saya). Walhasil maunya beli satu dapat dua deh….
Satu pelajaran yang saya dapat. Selain nomor ukuran underwear dan sepatu ternyata ukuran kasur kita juga perlu untuk diingat.
Dan sudah sejak lama memasang sprei adalah pekerjaan yang menyebalkan buat saya. Udah masangnya susah, kadang-kadang ukurannya nggak pas. Kalau kekecilan, ditarik ke atas bawah nggak tertutup, di tarik ke atas bawah “mlongo”. Bukan hal yang menyenangkan juga kalau ternyata spreinya kebesaran. Melipat ke bawah kasurnya susah dan rawan untuk bersarang ngengat, atau sisanya dibiarkan menjuntai jadi sarang debu. Kalau sudah begitu bisa-bisa satu bulan sprei nggak diganti. Gatel….? Nggak tau ya… Pasalnya setelah jadwal ganti sprei di-skip, saya memilih tidur di depan TV di ruang keluarga (he…he..).
Tapi pandangan itu jadi berubah sekarang. Ceritanya tiga hari sebelum lebaran saya diajak temen jalan ke Pasar Beringharjo. Temen mau nyari sprei. Sampai di sana temen saya sibuk milih warna dan corak yang sesuai dengan warna kamarnya. Yang nyebelin temen saya agak rewel, kalau warnanya cocok kainnya kurang halus, atau sebaliknya.
Saya akhirnya tertarik juga melihat sprei-sprei itu. Motif dan mutu kainnya sama dengan yang dijual di “Matahari” tapi dengan harga yang lumayan murah. Bagi saya memang harus ada yang dikorbankan. Nggak semua keinginan kita ada. Mau yang warnanya cocok, apa mutu kainnya. Karena memang adanya begitu.
Ukuran spreipun bermacam-macam, 100x200cm , 120x200cm, 180x200cm, dan masih juga ditambah ketebalannya 22,5cm untuk kasur “kapuk” atau busa yang biasa, dan 40 cm untuk springbed. Dan sudah diberi karet disetiap ujungnya. Padahal selama ini kalau ibu saya beli yang penting sprei besar atau kecil. Nggak pernah tahu ukuran tepat kasur masing-masing kamar. Dan hasilnya pun jelas selalu kebesaran.(ha..ha…maap Bu…)
Setelah saya ditanya ukuran berapa kasurnya, saya jadi bingung. Iya..ya saya nggak penah ngukur berapa lebar kasur saya. Akhirnya saya putuskan pilih yang ukuran 180x200cm. Karena saya pikir kasur saya lebar dan muat dua orang…(ehm….). Tapi dengan perjanjian kalo’ ternyata kebesaran atau kekecilan bisa ditukar.
Baru deh sampai rumah saya buru-buru ukur kasur saya. Masih belum percaya dengan hasil ukurnya kemasan sprei saya buka. Dan sprei saya pasang…olala… kebesaran sekali.
Keesokan harinya untuk menghindari macet dan panas, pagi-pagi saya ke Beringharjo buat nukar sprei. Ternyata harga 1 sprei ukuran 180x200cm dua kali lipat dari harga sprei 120x200cm (ukuran kasur saya). Walhasil maunya beli satu dapat dua deh….
Satu pelajaran yang saya dapat. Selain nomor ukuran underwear dan sepatu ternyata ukuran kasur kita juga perlu untuk diingat.

8 Comments:
At 10:58 AM ,
mei said...
Satu pelajaran yang saya dapat. Selain nomor ukuran underwear dan sepatu ternyata ukuran kasur kita juga perlu untuk diingat.
lhaaaaaa yang ini nih yang suka lupa, gak tau napa, kalau ukuran yang 2 itu khok gampang banget ingat..tapi kalau beli seprei pasti kebingungan sama ukurannya
btw jeng, aku lebih suka make bedcover di jadiin seprei, selain lebih empuk juga rasanya tidurnya lebih enak..ngaruh gak ya..hehe
At 12:10 PM ,
amethys said...
lho? sprei kan tinggal double..single ato queen...sama king size? ga repot kan?
underwear juga. xs, s, m, l, xl xxl...hihihihi
At 12:12 PM ,
diracov said...
kalo di rumah kontrakanku, tinggal nggelar selimut di kasih bantal trus bobok nyenyak, walau paginya badan jadi pegel-pegel karena punggung jadi "flat". Yang penting praktis.
At 1:05 PM ,
Anonymous said...
waduh kalo benda yang atu itu diluar kendali sayah tu, semua diatur sama "menteri dalem negeri" hi hi hi
At 4:18 PM ,
Anonymous said...
masih pake perlak nggak?? klo iya, gak usah bingungg, sak ukuran...hihihiih, masih untung klo kegedean...lha klo kekecilan kan ngowoh terus
At 4:47 PM ,
masayu said...
@mei: bedcover tu sprei, apa selimut to...? (garuk2 kepala)
@amethys:120x200cm tuh buat doble juga bisa je mbak... (ngeyel....!)
@dirac: Itu mode setelah men-skip acara ganti sprei.
@fiadi : kalo' gini caranya presidennya bisa diapusi sama menteri...
@kenny: Udah pake pempes jadi nggak perlu perlak biar kalo' malem nggak rewel.
At 11:27 AM ,
dewgf said...
welah...
kalo aq di lapangan biasanya jugag tinggal molor ajah di tiker yang dipake presentasi, bantalnya tas ransel qt..so ga usah mikirin sprei ukuran apa...
ato kalo lagi di jalan..yah molor ajah di emperan toko..
wakakakakkkk (iyo ra mbak??)
At 10:33 AM ,
mei said...
update jenggg..walah!!!
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home