Hujan

Awan mendung bergelayut di langit Yogya. Beberapa tempat sudah diguyur hujan deras. tapi beberapa tempat lagi hanya rintik-rintik. Hujan memang turun belum merata. Puncak merapi malah tempat yang paling sering hujan deras. Air curahan hujan menuruni lereng dengan membawa material vulkanik.
Bencana kah? Itu suatu anugerah disaat sebagian besar penduduk Yogya membutuhkan bahan material untuk membangun kembali rumah mereka, Tuhan menyupply-nya dengan lelehan lava merapi. Material vulkanik yang masih bertengger di lereng merapi dibawa arus air melewati aliran sungai boyong berhenti dan terakumulasi di lokasi-lokasi penambangan pasir.
Baru kali ini kampung saya diguyur hujan deras. Hujan telah mengusir hawa panas dan debu yang beterbangan. Hawa sejuk merasuk ke seluruh pori-pori kulit. Tidak ada lagi desingan kipas angin di kamar.
Pagi-pagi sepanjang jalan aspal kampung masih basah sisa hujan semalam. Bertebaran sayap-sayap laron di tepiannya. Anak-anak berlarian mengejar laron. Beberapa membawa kantung plastik. Jadi ingat masa kecil dulu. Laron adalah lauk yang hadir di meja makan satu kali dalam setahun. Karena memang laron hanya muncul di awal musim penghujan.
Dulu saat saya kecil, Mbah putri akan membangunkan saya saat subuh dengan menyalakan "senthir" kami jalan ke kebun barat rumah untuk mencari liang laron. Setelah itu laron diletakkan di "tambir" untuk dipisahkan sayapnya. Setelah dicuci bersih laron dicampur dengan kocokan telur dan sedikit garam. Jadilah lauk sarapan yang yami. Tapi karena kadar protein laron yang tinggi,tidak setiap orang bisa memakannya. Suatu saat adik saya bentol-bentol setelah makan laron. Itulah terakhir kali saya merasakan laron goreng.
Walau demikian hujan selalu membangkitkan kenangan-kenangan indah. Suara gemericik air dan bau tanah memberikan nuansa yang romantis. Nyamannya bermalas-malasan di bawah selimut sambil memandang derai hujan dari balik jendela. Seakan tak ingin melepaskan musim hujan berlalu begitu saja.

3 Comments:
At 12:40 PM ,
diracov said...
ach, indahnya hujan. Ternyata membawa berkah juga ya, disela hujan tangis mereka yang masih di tenda. Wah, aku dah kangen liat laron lagi nich. :)
At 3:36 PM ,
Anonymous said...
duh ..jadi inget dulu ngumpulin laron jg, anehnya..anak2ku malah pada jijik ama laron.
Welkambek mbakayuneeeee.....smoga waras terus blog'e.
At 11:24 PM ,
amethys said...
wow......kangen liat hujan di Yogya, 4 th yl aku dimobil pas hujan sangat deras di yogya..sehingga ga bisa liat apa2..tapi aku senengggg sekali pengin turun dari mobil dan main air hujan..."Yogya" yg selalu saja dihati..karena aku lahir disana
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home