Male Cheerleaders

Ceritanya nih Minggu malam saya nonton pertandingan basket di Auditorium UPN. Tajuknya IBL All Star, jadi bisa dipastikan yang main bintang-bintang Basket Indonesia dari berbagai club idola anak-anak basket Jogja. Kebetulan saya mengidolakan Kelly Purwanto. Alasan mengidolakan karena Kelly ganteng(halah..). Untuk ukuran pebasket tinggi badan Kelly termasuk pendek tetapi kemampuannya membawa bola dan memasukkan bola ke ring secara individu patut diacungi jempol. Dia lebih bisa diandalkan untuk mencetak angka "sendiri", dari pada harus dioper ke temennya. Karena biasanya udah susah-susah dibawa tinggal masukin bola ke ring dioper ke temennya eh... malah nggak masuk.
Yang menarik di pertandingan kemarin malam bukan Kelly-nya, tapi dancernya. Biasanya setiap Quarter saat mereka turun minum akan diselingi "seksi dance" atau cheerleader. Dan setiap kali juga seksi dancer atau cheerleaders ini perempuan. Kali ini dancer-dancer ini laki-laki.
Terinspirasi oleh iklan deodoran di TV, pihak IBL mengadakan kompetisi male cheerleader. Memang sih male cheerleader bukan hal baru. Malah dari yang saya baca, tahun 1898 di University of Minnesota sudah ada yang namanya cheerleader yang anggotanya semua laki-laki. Cheerleader ini maksudnya untuk memberikan semangat pada regu football mereka agar memenangkan pertandingan. Mereka bersorak-sorak dan meneriakkan yel-yel yang dipandu sehingga terdengar berirama.
Pada tahun 1941 di Amerika diberlakukan wajib militer untuk setiap laki-laki yang berbadan sehat. Saat itu pecah perang dunia II. Sehingga tidak ada lagi kegiatan cheerleader ini. Baru pada tahun 1943 Virginia Merrill dan Anna Francis Stucker mahasiswi Kansas University mendirikan cheerleader yang anggotanya perempuan. Sejak saat itu cheerleader menjadi identik dengan gadis-gadis cantik berbodi aduhai dan menjadi kembang kampus.
Sayangnya male cheerleader yang saya lihat kemarin malam ini terkesan sebuah lelucon. Para pria yang physically memang tidak menarik ini memakai kostum wanita. Padahal dari segi atraksi sudah lumayan bagus. Menurut saya nggak ada salahnya menggunakan male cheerleader, tetapi harus dicari sisi seninya. Male cheerleader dengan pakaian olah raga untuk pria dan atraksi yang bagus akan terlihat menghibur.
Anehnya, perempuan melihat seksi dancer perempuan nggak masalah. Tapi jangan ditanya komentar para pria tentang seksi dancer perempuan, jawabannya pasti suka sekali. Tetapi kalo' cheerleader-nya laki-laki kenapa perempuan nggak begitu suka ya..., apalagi para laki-laki sendiri. Saya sempat dengar komentar kameraman salah satu TV swasta yang ada di samping saya, "Wah bikin pusing nih dancer...!"
Sumber:http://www.ljworld.com/section/citynews/story/164716

5 Comments:
At 4:59 PM ,
Anonymous said...
Hmmmm...
*membayangkan cowok2 menari pakai rumbai-rumbai*
bikin sepet pemandangan nggak?
At 3:48 PM ,
Anonymous said...
iyah niy, langsung drop hi hi jangan2 para pemainnya bukan jadi seger malah langsung pingsan :)
At 2:32 PM ,
masayu said...
@ dirac: sing jelasra seksi blas!
@ fiadi: aku juga susah ngasih koment di blogmu fi..
At 3:33 PM ,
Anonymous said...
wah...pengin liattttt..pasti kocak, hehehehe. Yang bikin sepet pasti pakaiannya tuh..coba klo pake yg..eheemmmmm
At 11:29 PM ,
amethys said...
wow..jadi "shemale" dunk???
wuihhhh pasti lucu...
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home