Nyanthing

Berbagi indahnya hidup

Friday, March 02, 2007

Mentari Kembali Bersinar

Setelah mendung menyapu keluarga kami lebih kurang dua mingguan ini, mentari kembali menyembulkan sinarnya. Selama itu juga hati saya kebat kebit. Kepergian Pak wo menyisakan rasa "lega", sedih dan kehilangan. Bagaimana tidak "lega" karena akhirnya pak wo terbebas dari rasa sakit yang selama ini beliau keluhkan. Menjelang akhir tahun kemarin untuk pertama kalinya Pak wo mau diajak ke rumah sakit untuk berobat. Rasa sakit di perutnya mungkin sudah tidak tertahan lagi. Selama empat malam itu saya piket berjaga menungguin. Dan anehnya dari medical test-nya tidak ada satupun indikasi penyebab sakit diperutnya. Malah baru ketahuan juga setelah CT-Scan ternyata pinggul Pak wo pernah patah sehingga saat terjadi osteoporosis kisutnya nggak sama jadilah setelah tua pak wo pincang. Dan juga HB pak wo yang terlalu rendah sehingga butuh transfusi darah. Tetapi setelah transfusi kesehatan beliau pulih sehingga pas Lebaran Haji Pak wo boleh pulang. Dan beberapa hari sebelum meninggal sakit di perutnya kembali kambuh. Dan kalo' rasa sakit itu datang kami semua merasa kasihan sekali.

Dan sedihnya karena hal itu berimbas pada kedua pasien saya yang lain bapak dan mBok wo. Yang sehat saja terguncang apalagi yang sakit. Kebetulan mBok wo dan bapak saya penderita diabet jadi shock sedikit aja akan menyebabkan kesehatannya down.

Setelah selamatan tiga harinya Pak wo, bapak mengeluh dadanya sesak, perutnya sakit nafsu makan hilang. Sebenarnya mendengar itu "dengkul" saya gemeter. Bayangan bapak opname setahun yang lalu sangat menakutkan saya. Dan celakanya lagi bapak tidak mau dibawa ke dokter kecuali saya yang ngantar. Diantar pake mobil sama sopir ndak mau, padahal kalo' sama saya cuma naik motor. Bapak tetep milih naik motor dibonceng saya.

Dan benar saja begitu masuk ruang periksa dokter langsung bilang ,"opname aja pak", "ini bisa menyebabkan pendarahan lambung dan sangat berbahaya, apalagi bapak nggak mau makan. Kalo' di rumah sakit kan bisa di infus"!.
Dan penyakit bapak lebih dikarenakan rasa sedihnya, sehingga asam lambungnya naik. Itulah yang membuat dada bapak sesak. Berulang kali bapak menggumam "aku wis ra due bapak!", selain itu bapak juga mogok nggak mau berangkat kerja. Saya jadi bingung, gimana men-"cheer up" bapak, biar semangat lagi.
Memang seumur hidup bapak tidak pernah berpisah dari Pak wo. Setiap berangkat kerja melihat wajah pakwo, pulang kerja Pak wo sudah duduk-duduk di teras.


Mbok Wo juga tidak kalah menyedihkannya. Biasanya beliau sibuk melayani dan nyuruh makan Pak wo. Segala sesuatu selalu dengan adu mulut yang ramai, dan Mbok wo tidak pernah mau ngalah. Tapi kali ini tidak ada lagi yang ditawari makan, tidak ada lagi yang menerangkan saat beliau nonton acara tv. Kepergian pak wo membuat hari-hari Mbok Wo sepi dan membuat tubuhnya lemas. Pagi hari bangun sholat subuh, lalu beres-beres sambil nunggu bontotnya om saya pamit sekolah minta sangu. Setelah itu beliau akan masuk kamar dan tidur. Siang hari setelah sholat dhuhur mBok wo akan duduk di teras menghadap ke barat sambil termenung. Dan entah apa yang dipikirkan.
Kebetulan beberapa hari yang lalu setelah selamatan 7 harinya Pak wo mBok wo terpeleset genangan air di teras. Kakinya bengkak dan sakit, membuat mbok wo nggak bisa jalan.

Sebenarnya kami sekeluarga sudah ikhlas dan menyadari bahwa ini memang sudah saatnya. Jadi selama Pak wo disemayamkan sampai saat dikuburkannya semua tidak terlalu sedih. Secara bergantian kami membaca Yassin dan tahlil di dekat jenazahnya. Semua kerabat dekat maupun jauh berdatangan. Kedatangan mereka sangat menghibur kami.
Tetepi setelah pemakaman pada hari minggu siang satu persatu saudara dan kerabat pamit pulang. Dan puncaknya setelah kenduri "bedah bumi", kami berkumpul di teras. Untuk pertama kalinya keluarga kami berkumpul. Mbok wo, bapak sebagai anak nomor satu, dan om adiknya bapak bungsunya mbok wo, ada juga ibu saya, dan tante dan kami berlima cucu-cucunya.
Saat sepi mulai menjalar, langit mendung, om dan bapak silih berganti membuat lelucon untuk menghangatkan suasana. Dan saat itulah puting beliung menghantam Jogja.
Innalillahi wa innaillahi roji'un. Melihat itu semua hati kami menjadi miris.

Rabu kemarin adalah hari dimana mbok wo biasa "ngunduh" pengajian. Alhamdulillah banyak sekali yang datang bisa jadi penghibur untuk mBok wo. Dan bapak saya memutuskan untuk mengambil "BT"-nya agar bisa istirahat meskipun sebenarnya tinggal setahun lagi beliau pensiun. Sebelumnya saya dan ibu berharap bapak mau kembali berangkat kerja, biar ada pergantian suasana. Tetapi ternyata justru sakitnya bapak sebelum meninggalnya Pak Wo malah dikarenakan bapak tersinggung kelakar seorang teman di kantor. Mendengar alasan itu akhirnya saya dan ibu menyerah, sejauh hati bapak senang dan badannya sehat.

Alhamdulillah, terima kasih Tuhan, Engkau memisahkan kami dengan orang yang sangat kami cintai, tetapi Engkau menguatkan hati kami. Ya Tuhan jangan pernah meninggalkan kami. Kami serahkan jiwa kami dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit kami. Amin

3 Comments:

  • At 7:27 PM , Anonymous Anonymous said...

    semua udah ada yg ngatur, memang itu yg terbaik buat pak wo. Smoga beliau diterima disisi Nya, amiin.

     
  • At 1:33 PM , Anonymous Anonymous said...

    se7 ma kenny, itu yaang terbaik bagi mbah Wo, semoga mbah wo di terima disisiNya amien

     
  • At 7:34 PM , Anonymous Anonymous said...

    mbak...dikau cuti yah?

     

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home