Akhir dari Perjodohan
Masayu: 14-mei-07 18:40
Mas, sejauh mana kejadian dua hari ini mempengaruhimu?
XXXXXXX: 14-mei-07 18:46
Satu hal yang mempengaruhi adanya ketenangan di hati saya walaupun kita belum saling bertemu dan satu hal yang ingin saya katakan dari lubuk hati saya bahwa saya mencintai kamu
Gubraaaaakkkkkssss!!!!
Apa-apaan ini orang baru 2 hari sms-an. Wah nggak bisa dibiarkan, hal ini harus segera diselesaikan. Keingin untuk bertemu orang yang bernama XXXX itu semakin membucah diotak saya. Karuan saja malam hingga larut mata tak mau terpejam otak saya berputar-putar memikirkan jalan keluarnya. Dada terasa berat serasa ditindih lemari besi. Berulang kali saya menarik napas panjang seolah sedari tadi lupa bernafas.
Kelanjutan sms di atas meyakinkan saya pada satu hipotesa, dan keputusan yang bulat. Hanya saja dalam hati saya ada sebuah bantahan atau argumen untuk berpandangan lebih obyektif.
Lalu saya telpon sahabat yang ada di Jakarta untuk meminta pendapatnya. Dan dari dia saya dapat support bahwa keputusan saya tepat. Sebagai wanita memang harus begitu...
Masih tidak puas dengan pendapat sahabat saya itu saya minta pendapat lagi sama temen di kantor dan jawabannya kurang lebih sama. Sebenarnya selepas magrib XXXX mau menjemput saya untuk diajak keluar. Tapi setelah sayapikir-pikir lebih baik ketemu di siang hari dan langsung ketemu di suatu tempat.
Akhirnya disepakati bertemu disebuah rumah makan fast food jam 13.30. Ada rasa gemetar, dan sedikit rasa takut. Telpon dari XXX yang mengatakan bahwa dia sudah sampai di restoran fast food itu membuat saya mau tidak mau harus menemuinya.
Yah saya pingin masalah ini segera selesai.
XXX menunggu saya didepan restoran tersebut, dia memberi tahu memakai baju warna merah seragam kantornya. Ya nggak salah lagi hanya ada satu cowok yang duduk disitu sambil pegang HP.
Langsung saya sapa "Mas XXXX ya?"
"Iya...."
"Yuk masuk..." ajak saya.
uuuuuuh........wajahnya polos, lumayan menarik, dengan perawakan sedang dan kulitnya bersih. Yang langsung terbersit di hati saya adalah rasa nggak tega menyampaikan maksud pertemuan saya dengannya. Jujur, melihat wajahnya saya jadi teringat karyawan-karyawan saya. Cowok-cowok tanggung yang BT (butuh tatih tayang)
Saya tidak tega menghancurkan harapannya. Tapi saya tahu pasti bahwa dia bukan tingkatan saya....
Begitu pantat nempel kursi, dia langsung cerita tentang dirinya. Saya dengarkan semua ceritanya, sambil saya tatap matanya. Dan diapun tak berani menatap mata saya. Lalu saya tanya "Usia kamu berapa?".
setelah dia jawab pertanyaan saya kembali dia sibuk bercerita yang entah tentang apa.
Lalu saya bertanya lagi "kamu nggak pingin tahu umur saya berapa, atau kamu udah baca friendster saya?"
Baru dia nanya dan itu satu-satunya pertanyaan yang dia ajukan kesaya selama pertemuan siang itu.
"emang umur kamu berapa...?"
Gubraaaakkkkkkssssss!!!!!!!!
Benar-benar nggak tega menyakiti hatinya. Tetapi saya semakin yakin bahwa keputusan saya tidak salah.
Akhirnya dengan rasa menyesal saya mengungkapkan bahwa saya tidak bisa memenuhi harapannya. Dan dengan segala kerendahan hati saya minta maaf.
Saya teringat dialog di film George of the Jungle, dimana George diajak bicara oleh ibu pacarnya yang membuat George nggak paham. Akhirnya ibu itu bilang
"Garis berjodoh dengan garis, titik berjodoh dengan titik, zebra berjodoh dengan zebra, dan gajah berjodoh dengan gajah. Kalau ikan ingin hidup dengan burung dimana mereka akan tinggal?"
-Kasus ditutup-
Mas, sejauh mana kejadian dua hari ini mempengaruhimu?
XXXXXXX: 14-mei-07 18:46
Satu hal yang mempengaruhi adanya ketenangan di hati saya walaupun kita belum saling bertemu dan satu hal yang ingin saya katakan dari lubuk hati saya bahwa saya mencintai kamu
Gubraaaaakkkkkssss!!!!
Apa-apaan ini orang baru 2 hari sms-an. Wah nggak bisa dibiarkan, hal ini harus segera diselesaikan. Keingin untuk bertemu orang yang bernama XXXX itu semakin membucah diotak saya. Karuan saja malam hingga larut mata tak mau terpejam otak saya berputar-putar memikirkan jalan keluarnya. Dada terasa berat serasa ditindih lemari besi. Berulang kali saya menarik napas panjang seolah sedari tadi lupa bernafas.
Kelanjutan sms di atas meyakinkan saya pada satu hipotesa, dan keputusan yang bulat. Hanya saja dalam hati saya ada sebuah bantahan atau argumen untuk berpandangan lebih obyektif.
Lalu saya telpon sahabat yang ada di Jakarta untuk meminta pendapatnya. Dan dari dia saya dapat support bahwa keputusan saya tepat. Sebagai wanita memang harus begitu...
Masih tidak puas dengan pendapat sahabat saya itu saya minta pendapat lagi sama temen di kantor dan jawabannya kurang lebih sama. Sebenarnya selepas magrib XXXX mau menjemput saya untuk diajak keluar. Tapi setelah sayapikir-pikir lebih baik ketemu di siang hari dan langsung ketemu di suatu tempat.
Akhirnya disepakati bertemu disebuah rumah makan fast food jam 13.30. Ada rasa gemetar, dan sedikit rasa takut. Telpon dari XXX yang mengatakan bahwa dia sudah sampai di restoran fast food itu membuat saya mau tidak mau harus menemuinya.
Yah saya pingin masalah ini segera selesai.
XXX menunggu saya didepan restoran tersebut, dia memberi tahu memakai baju warna merah seragam kantornya. Ya nggak salah lagi hanya ada satu cowok yang duduk disitu sambil pegang HP.
Langsung saya sapa "Mas XXXX ya?"
"Iya...."
"Yuk masuk..." ajak saya.
uuuuuuh........wajahnya polos, lumayan menarik, dengan perawakan sedang dan kulitnya bersih. Yang langsung terbersit di hati saya adalah rasa nggak tega menyampaikan maksud pertemuan saya dengannya. Jujur, melihat wajahnya saya jadi teringat karyawan-karyawan saya. Cowok-cowok tanggung yang BT (butuh tatih tayang)
Saya tidak tega menghancurkan harapannya. Tapi saya tahu pasti bahwa dia bukan tingkatan saya....
Begitu pantat nempel kursi, dia langsung cerita tentang dirinya. Saya dengarkan semua ceritanya, sambil saya tatap matanya. Dan diapun tak berani menatap mata saya. Lalu saya tanya "Usia kamu berapa?".
setelah dia jawab pertanyaan saya kembali dia sibuk bercerita yang entah tentang apa.
Lalu saya bertanya lagi "kamu nggak pingin tahu umur saya berapa, atau kamu udah baca friendster saya?"
Baru dia nanya dan itu satu-satunya pertanyaan yang dia ajukan kesaya selama pertemuan siang itu.
"emang umur kamu berapa...?"
Gubraaaakkkkkkssssss!!!!!!!!
Benar-benar nggak tega menyakiti hatinya. Tetapi saya semakin yakin bahwa keputusan saya tidak salah.
Akhirnya dengan rasa menyesal saya mengungkapkan bahwa saya tidak bisa memenuhi harapannya. Dan dengan segala kerendahan hati saya minta maaf.
Saya teringat dialog di film George of the Jungle, dimana George diajak bicara oleh ibu pacarnya yang membuat George nggak paham. Akhirnya ibu itu bilang
"Garis berjodoh dengan garis, titik berjodoh dengan titik, zebra berjodoh dengan zebra, dan gajah berjodoh dengan gajah. Kalau ikan ingin hidup dengan burung dimana mereka akan tinggal?"
-Kasus ditutup-

4 Comments:
At 4:24 PM ,
kenny said...
cinta kan soal hati bukan usia (halah!!) lagian sekarang kan gi musim nya brownis tho :D
At 11:12 AM ,
masayu said...
@kenny: brownies..., dari singkong juga enak lo.., halah!
At 1:58 PM ,
Anonymous said...
mbak..kok akhire koyo ngunu...tapi tidak juga adalah suatu pilihan..bravo...
thx buat kata2nya waktu itu..memang semuanya akan berputar sampe kita membujur kaku
At 3:53 PM ,
Anonymous said...
yaaaaaa...gak happy end dunk???emang ga bisa di coba buat pacaran dulu??perjodohn khan gak selalu harus d akhiri ke pelaminan khan yu???
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home