Nyanthing

Berbagi indahnya hidup

Monday, May 28, 2007

Refleksi setahun Gempa Yogya

Nggak terasa dah setahun kejadian gempa dahsyat yang melanda yogya dan klaten. Sudah banyak kemajuan, bahkan untuk beberapa orang yang trauma sudah mulai sembuh. Beberapa bangunan sudah kembali berdiri. Cat-cat tembok baru sudah menghias dinding.
Tapi ada juga yang masih berantakan. Ada juga timbunan pasir dan batu-bata di beberapa ruas jalan kampung.

Pemerintah memang memberikan perhatian yang lebih untuk korban gempa. Memang tidak sedikit dana yang sudah dikucurkan. Sebagian mengatakan "Gempa adalah Musibah" tapi sebagian lagi mengatakan "Gempa membawa berkah".

Refleksi Setahun Gempa Yogyakarta diisi dengan doa massal hampir semua agama. Di kampung saya di gelar Mujahadah dari malam minggu hingga malam senin. Kebetulan malam minggu bertepatan dengan selamatan 100 hari pakwo saya, jadi saya memilih di rumah setelah acara tahlilan selesai. Disambangi dua orang teman, kami ngobrol hinga tengah malam.

Obrolan berkisar seputar kejadian gempa waktu itu, dan kasus yang menimpa teman saya beberapa waktu lalu. Beberapa kali teman saya masuk koran dengan tajuk sebagai demonstran. Saya sempat dengar kasus ini dari beberapa orang yang intinya mendeskreditkan teman saya.

Malam itulah saya mendapat klarifikasi masalah demo itu langsung dari teman saya. Teman saya lulusan fakultas hukum salah satu universitas swasta katholik di jogja. Jadi walaupun pekerjaannya 100% "house wife" wawasannya tentang pemerintahan dan hukum masih bagus.

Awal tahun 2007 dana bantuan rekonstruksi untuk bangunan yang dikategorikan roboh turun. Sebagian yang rumahnya benar-benar roboh mendapat bantuan. Dan yang ajaib kebanyakan yang rumahnya tidak roboh juga mendapat bantuan. Tidak saja orang yang punya rumah yang dikategorikan rumahnya roboh. Orang yang hanya ngontrak saja dikategorikan rumahnya roboh. Bagaimana bisa, rumah saja belum dibangun sudah roboh?

Ada juga komplek rumah petak berisi 12 kepala keluarga sebagai pengontrak, semua mendapatkan bantuan sebagai korban gempa dengan kategori rumah roboh. Bahkan untuk orang yang rumahnya hanya retak ringan, mendapat bantuan kategori rumah roboh 2 jatah (15 jt dikalikan 2).

Teman saya merasa gerah melihat kejadian itu. Saat ada rapat di kelurahan dia menanyakan masalah itu ke pak lurah. Merasa tersudut pak lurah malah ganti bertanya tentang kapasitas teman saya menanyakan hal itu. Sungguh lucu memang. Sebagai warga kelurahan tersebut teman saya berhak tahu perihal kelurahannya.

Karena pak lurah dan para fasilitator merasa terdesak mereka melemparkan pertanyaan itu pada lembaga di atas mereka. Dengan berani teman saya meneruskan perjuangan. Kontan saja para pengurus dana rekonstruksi itu kebakaran jenggot.
Teman-teman demo teman saya lambat laun berkurang. Usut punya usut mereka sudah dijanjikan akan diberi jatah. Sempat juga teman saya itu dijanjikan 2 jatah kalau teman saya mengurungkan niatnya memperkarakan kasus itu ke DPRD.

Bukan hanya itu. Mereka masih mengeruk keuntungan dari gambar bangunan, sebagai syarat mengurus IMB. Yang dalam aturan hanya 1000 rupiah per m2, masyarakat ditarik 2500 rupiah per m2. 1000 rupiah tersebut digunakan untuk ongkos gambar. Dan memang yang diterima konsultan teknik hanya 1000 rupiah tersebut. Dan entah kemana sisa 1500 rupiahnya.

Penerimaan pengelola dana rekonstruksi yang secara teknis harus diumum tersebut ternyata dimonopoli oleh orang-orang terdekat pak lurah. Yaitu para ketua RW dan Ketua RT yang sebenarnya mereka harusnya jadi mediator atau penengah jika ada konflik antara warga masyarakat dengan fasilitator.

Mereka ini tidak saja orang terpandang di kampung tapi juga orang-orang yang menjadi panutan agama dikampung. Sungguh ironis sekali tatkala ada masalah yang menyangkut uang justru merekalah yang paling rakus. Para fasilitator tersebut orang yang paling utama mendapat bantuan dengan kategori roboh. Walaupun rumah mereka hanya retak atau roboh sebagaian.

Saya jadi heran, apakah mereka dulu lulus sekolahnya? sedangkan membedakan rumah roboh total, roboh sebagian, dan retak-retak saja tidak bisa. Atau mereka buta? Naudzubillahimindalik.

Gempa yang seharusnya menyadarkan pada kita akan kebesaran Tuhan. Dan mengingatkan kita untuk senantiasa bertobat dan kembali ke jalan yang benar ternyata menjadi ajang rombongan pergi ke neraka. Memakan bangkai saudara sendiri. Menambah dosa. Jadi jangan tertipu dengan orang-orang yang memberikan propaganda agama. Karena merekalah sebenarnya orang yang lemah imannya.


10

3 Comments:

  • At 3:08 PM , Anonymous Anonymous said...

    biasa mbak..kan katamu buta aksara yang digalangkan pemerintah tak pernah dibarengi dengan buta harta...

     
  • At 3:19 PM , Blogger masayu said...

    @crushdew: hahaha.... mari kita berantas 3 buta, buta aksara, buta agama, dan buta harta....

     
  • At 4:15 PM , Anonymous Anonymous said...

    bau duwit memang seksi ,mampu mengalahkan segalanya

     

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home