Meskipun kebanyakan instansi sudah memberlakukan 5 hari kerja beberapa tahun terakhir ini, kantor saya baru mulai 5 hari kerja terhitung Januari 2007. Walaupun saat 6 hari kerja juga sering bolos, tetapi saat diberlakukan sabtu libur sempat juga post power sindrom. Sejak hari rabu saya sudah merancang mau ngapain hari sabtu nanti. Rencana awal hari sabtu mau masuk, mengerjakan beberapa tugas kuliah sama numpang nge-net di kantor. Malah sudah janjian dengan beberap teman “lembur” bareng.
Tiba-tiba saat mbah putri tahu kalau saya libur, beliau ngajak saya ke “Beringharjo”. Beli beberapa lembar tikar untuk mengganti tikar mushola yang sejak gempa entah kemana. Berhubung musholanya waktu itu roboh.
Sebenarnya saya nggak tega ngeliat mbah putri jalan pergi belanja. Lah gimana tidak tangan sudah gemetaran kok nantangin keliling “Beringharjo” yang padat orang belanja. Sempat saya usulkan biar saya aja yang beli tikar. Tapi rupanya bukan masalah tikarnya, mbah putri emang mau jalan-jalan liat pasar yang sudah lama tidak beliau kunjungi. Dan juga sebenarnya karena mumpung ada uang.
Setahu saya juga cuma beli tikar. Ternyata mbah putri ngajak mampir ke toko emas langganan (halah… biasa orang tua). Mbah putri memang gemar menabungkan uang dalam bentuk perhiasan. Berulang kali beliau ngendika,”Mbok kalo’ ada uang lebih dicenthelke mas-masan raketang cilik!” Biasanya saya cuma senyum, gimana tidak… boro-boro lebih untuk bayar kuliah aja udah nggak bawa pulang gaji.
Setelah urusan dengan toko mas selesai baru mbah putri bilang kalo’ pingin juga beli sarung. Setelah parkir ditengah pasar lalu kami menyusuri jalan sempit di utara pasar buat nyari tikar. Tikar ketemu, tapi kalo’ masih harus beli sarung, saya nggak kuat bawanya. Lalu saya usulkan beli tikarnya nanti saja, sekarang beli sarung dulu. Akhirnya mbah putri menyetujui. Kebetulan pas banget toko tikarnya ada di sebelah utara pedagang konveksi langganan kami hanya terhalang pagar pasar.
Setelah beramah-tamah dengan pedagangnya dan saling berjabat tangan karena lama nggak jumpa Mbah putri langsung menanyakan sarung yang diinginkan.
BP: “Mbak sarung “mBantulan” ana?”
P : “Sarung sing napa Bu?”
BP: “Batik mBantulan”!
Saya heran kok baru sekarang saya dengar ada batik mBantulan. Setahu saya adanya juga batik Jogja (Solo), atau pekalongan. Wah batik model baru nih.
P : “Batik mBantulan niku ingkang dos pundi nggih Bu?” Tanya pedagangnya.
BP : “Nika lo… kaya sing teng tipi!”
Saya baru ngeh, ternyata yang dimaksud batik “mBantulan” itu adalah batik yang dipakai pengisi acara di TVRI . Salah satu paket acara milik PEMDA Bantul. Wah … Batik mBantulan.
“Mboten ngertos je Bu, lah niki wontene naming kados niki…”, Kata penjualnya.
Hampir semua stok model sarung pedagang itu dikeluarkan. Langsung mbah putri sibuk memilih-milih sarung. Dan nggak tanggung-tanggung simbah beli 5 lembar sarung batik sekaligus, 3 daster batik, 2 hem batik. Dari kelima sarung itu yang mana mBantulan pun saya juga nggak ngerti. Dan beliau masih nanya ke saya,
“Koe njaluk apa…?"
Saya hanya menggeleng (-geleng). Dalam hati saya bilang “njaluk rabi mbah” (hi….hi…hi…). Sebenarnya geli juga ngeliat mbah putri hari itu “gila belanja”, mana uangnya disimpannya di setagen lagi dan di tiga buntelan. Dan setiap kali mau bayar “ngrogoh- ngrogoh” perut… tempat buntelan uang itu berada. Kembali saya hanya bisa geleng-geleng.
“Ya wis… ayo tuku Soto ning endi…?”
“Karo aja lali sate kere pesenane Pak Wo…”.
Saya jadi bengong, tangan mbah putri aja udah gemetaran ternyata daftar belanjaan masih banyak. Mana tempat soto sama sate kere jauh lagi. Bukan apa-apa, saya yakin 100% mbah putri bisa aja nekat jalan sampai belanjaannya terbeli semua. Tapi nanti malam, atau besok… dijamin nggak bakalan tega mendengar keluhannya. Karena simbah memang nggak bisa kecapekan karena beberapa tahun terakhir beliau mengidap lemah jantung, dan diabetes, dan karena usianya juga sudah lanjut. Dan dua kali sudah saya lihat mbah putri pingsan. Kalo’ sudah begitu saya dan ibu yang pontang-panting.
Lalu setelah dapat tikar mbah putri saya sarankan untuk cari becak saja dan pulang. Biar saya yang mencarikan sate kere. Masalah Soto bisa kapan-kapan kalo’ pas nggak repot bawa belanjaan. Dan mbah putri pun setuju.
Saya suka geleng-geleng kepala melihat mbah putri, walaupun sudah sepuh semangat hidupnya tinggi. Jangan salah… mbah putri saya selain memakai kain kadang-kadang pakai celana panjang juga lo... Bedak dan lipstick tidak pernah ketinggalan bila beliau hendak pergi.
Saya baru menyadari, dari mana bakat terampil belanja saya menurun. Dan komentar ibu saya,”Karang putune mbahne…, nek duwe dhuwit gatel, belum jenak kalo’ duitnya belum abis”. (hi…hi…hi…)
Saya Cuma senyum. “Kacang mongso ninggal lanjaran”!