Nyanthing

Berbagi indahnya hidup

Wednesday, January 17, 2007

Susah Jadi Perempuan Cantik

Orang pikir Tamara sempurna
Orang pikir dengan suami ganteng Tamara bahagia
Orang pikir dengan kontrak yang tinggi Tamara punya segalanya

Tamara bicara orang pikir dia kampanye
Tamara menangis orang pikir dia akting
Tamara mengungkapkan isi hatinya orang pikir dia nyari simpati
Tamara dilanda masalah orang pikir lagi nyari sensasi

Susah jadi perempuan cantik
Perempuan cantik juga manusia

Monday, January 15, 2007

Bodooooh!!!!!!!
Itu kata yang langsung keluar dari mulut saya setelah menerima telepon dari teman kuliah.
Teman : Mbak kok nggak berangkat ujian?
Aku : lo kan nanti jam satu..!
Teman : Jam 8 mbak, kan jadwalnya diganti... inget nggak?
Aku : Oooo iya ya.... trus gimana?
Teman : ya ini barusan kami keluar kelas, cepet ke sini deh mbak siapa tahu boleh
nyusul. Tadi ditelpon kok nggak nyambung sih mbak?
Aku : Iya baterenya abis jadi tak matiin.

.......cut.........

Duankkkkk!!!!!
Bodoh bener-bener bodoh, sebenarnya aku dah liat jadwal di buku-ku, tapi nggak kulihat tanggalnya. Aku ingat betul kalo' tanggalnya 15 dan setelah kulihat buku ternyata jam 13.00. Tapi aku lupa kalo' itu jadwal lama. Jadwal lama memang jam 13.00 tapi tanggalnya 19. Karena tanggal segitu temen-temen udah pada mau balik jadi mereka minta ujian dimajukan yaitu tanggak 15 jam 8 pagi.
Setelah lumayan dioper-oper dari penjaga ujian ke dosen pembimbing, lalu dioper lagi harus ketemu ketua jurusan, dan ketua jurusan mengoper lagi ke dosen pembimbing (kaya' sepak bola aja...hi...hi...hi...), akhirnya perjuanganku untuk mengikuti ujian susulan berhasil! Alhamdulillah....

Mbah Putri

Meskipun kebanyakan instansi sudah memberlakukan 5 hari kerja beberapa tahun terakhir ini, kantor saya baru mulai 5 hari kerja terhitung Januari 2007. Walaupun saat 6 hari kerja juga sering bolos, tetapi saat diberlakukan sabtu libur sempat juga post power sindrom. Sejak hari rabu saya sudah merancang mau ngapain hari sabtu nanti. Rencana awal hari sabtu mau masuk, mengerjakan beberapa tugas kuliah sama numpang nge-net di kantor. Malah sudah janjian dengan beberap teman “lembur” bareng.

Tiba-tiba saat mbah putri tahu kalau saya libur, beliau ngajak saya ke “Beringharjo”. Beli beberapa lembar tikar untuk mengganti tikar mushola yang sejak gempa entah kemana. Berhubung musholanya waktu itu roboh.
Sebenarnya saya nggak tega ngeliat mbah putri jalan pergi belanja. Lah gimana tidak tangan sudah gemetaran kok nantangin keliling “Beringharjo” yang padat orang belanja. Sempat saya usulkan biar saya aja yang beli tikar. Tapi rupanya bukan masalah tikarnya, mbah putri emang mau jalan-jalan liat pasar yang sudah lama tidak beliau kunjungi. Dan juga sebenarnya karena mumpung ada uang.

Setahu saya juga cuma beli tikar. Ternyata mbah putri ngajak mampir ke toko emas langganan (halah… biasa orang tua). Mbah putri memang gemar menabungkan uang dalam bentuk perhiasan. Berulang kali beliau ngendika,”Mbok kalo’ ada uang lebih dicenthelke mas-masan raketang cilik!” Biasanya saya cuma senyum, gimana tidak… boro-boro lebih untuk bayar kuliah aja udah nggak bawa pulang gaji.

Setelah urusan dengan toko mas selesai baru mbah putri bilang kalo’ pingin juga beli sarung. Setelah parkir ditengah pasar lalu kami menyusuri jalan sempit di utara pasar buat nyari tikar. Tikar ketemu, tapi kalo’ masih harus beli sarung, saya nggak kuat bawanya. Lalu saya usulkan beli tikarnya nanti saja, sekarang beli sarung dulu. Akhirnya mbah putri menyetujui. Kebetulan pas banget toko tikarnya ada di sebelah utara pedagang konveksi langganan kami hanya terhalang pagar pasar.
Setelah beramah-tamah dengan pedagangnya dan saling berjabat tangan karena lama nggak jumpa Mbah putri langsung menanyakan sarung yang diinginkan.

BP: “Mbak sarung “mBantulan” ana?”
P : “Sarung sing napa Bu?”
BP: “Batik mBantulan”!

Saya heran kok baru sekarang saya dengar ada batik mBantulan. Setahu saya adanya juga batik Jogja (Solo), atau pekalongan. Wah batik model baru nih.

P : “Batik mBantulan niku ingkang dos pundi nggih Bu?” Tanya pedagangnya.
BP : “Nika lo… kaya sing teng tipi!”

Saya baru ngeh, ternyata yang dimaksud batik “mBantulan” itu adalah batik yang dipakai pengisi acara di TVRI . Salah satu paket acara milik PEMDA Bantul. Wah … Batik mBantulan.

“Mboten ngertos je Bu, lah niki wontene naming kados niki…”, Kata penjualnya.

Hampir semua stok model sarung pedagang itu dikeluarkan. Langsung mbah putri sibuk memilih-milih sarung. Dan nggak tanggung-tanggung simbah beli 5 lembar sarung batik sekaligus, 3 daster batik, 2 hem batik. Dari kelima sarung itu yang mana mBantulan pun saya juga nggak ngerti. Dan beliau masih nanya ke saya,
“Koe njaluk apa…?"
Saya hanya menggeleng (-geleng). Dalam hati saya bilang “njaluk rabi mbah” (hi….hi…hi…). Sebenarnya geli juga ngeliat mbah putri hari itu “gila belanja”, mana uangnya disimpannya di setagen lagi dan di tiga buntelan. Dan setiap kali mau bayar “ngrogoh- ngrogoh” perut… tempat buntelan uang itu berada. Kembali saya hanya bisa geleng-geleng.
“Ya wis… ayo tuku Soto ning endi…?”
“Karo aja lali sate kere pesenane Pak Wo…”.
Saya jadi bengong, tangan mbah putri aja udah gemetaran ternyata daftar belanjaan masih banyak. Mana tempat soto sama sate kere jauh lagi. Bukan apa-apa, saya yakin 100% mbah putri bisa aja nekat jalan sampai belanjaannya terbeli semua. Tapi nanti malam, atau besok… dijamin nggak bakalan tega mendengar keluhannya. Karena simbah memang nggak bisa kecapekan karena beberapa tahun terakhir beliau mengidap lemah jantung, dan diabetes, dan karena usianya juga sudah lanjut. Dan dua kali sudah saya lihat mbah putri pingsan. Kalo’ sudah begitu saya dan ibu yang pontang-panting.
Lalu setelah dapat tikar mbah putri saya sarankan untuk cari becak saja dan pulang. Biar saya yang mencarikan sate kere. Masalah Soto bisa kapan-kapan kalo’ pas nggak repot bawa belanjaan. Dan mbah putri pun setuju.
Saya suka geleng-geleng kepala melihat mbah putri, walaupun sudah sepuh semangat hidupnya tinggi. Jangan salah… mbah putri saya selain memakai kain kadang-kadang pakai celana panjang juga lo... Bedak dan lipstick tidak pernah ketinggalan bila beliau hendak pergi.
Saya baru menyadari, dari mana bakat terampil belanja saya menurun. Dan komentar ibu saya,”Karang putune mbahne…, nek duwe dhuwit gatel, belum jenak kalo’ duitnya belum abis”. (hi…hi…hi…)
Saya Cuma senyum. “Kacang mongso ninggal lanjaran”!

Tuesday, January 09, 2007

Password

Begini nih nasib orang “gaptek”. Sok tahu dan mudah dipengaruhi. Ceritanya teman invite ke gmail.com. Tanpa babibu lagi langsung aku approve. Abis itu kok aku nggak bisa masuk beta.blogger, kok nggak bisa ngasih comment di Blogger. Selalu dikatakan salah password. Wah… celaka duabelas nih!
Lalu aku coba verifikasi. Ternyata account-nya udah ganti account gmail.com, jadi account lama dah nggak laku. Tapi…..
Kenapa passwordnya nggak cocok? Karena aku orangnya pelupa, semua account di internet password-nya kubuat sama. Apakah waktu register aku iseng trus ganti password ya…., tapi apa….
Walhasil ganti password deh… dari pada pusing.
Dari pada nge-blog berhenti….?????
Tidaaaaaaaaak………..!!!!!

Monday, January 08, 2007

Renungan

Konon seorang pemuda ganteng harus kehilangan pengelihatannya.
Namun dalam dirinya tidak pernah terbersit rasa minder apa lagi putus asa.
Dia tetap melanjutkan hidup dan mencoba menemukan pasangan hidupnya.

Suatu ketika dia berjumpa dengan seorang gadis. Gadis ini sangat special buatnya.
Seorang gadis yang dewasa, cerdas, dan penuh pengertian. Di hadapan gadis ini sang pemuda merasa dirinya menjadi seorang laki-laki yang sempurna.

Ada keinginan lebih dalam diri sang pemuda. Dia menginginkan bisa melihat wajah gadis yang sangat dia cintai. Hal inilah yang membuat sang pemuda jadi bersemangat untuk melakukan operasi cangkok kornea.

Sang gadis dengan penuh perhatian mendengarkan keinginan sang pemuda. Sampai saat pemuda itu melakukan operasinya, sang gadis selalu berada di sampingnya.

Tiba saatnya untuk membuka perban. Sang pemuda sudah tidak sabar ingin melihat wajah kekasihnya. Saat dokter membuka perban matanya, tak henti-hentinya sang pemuda meremas lembut jemari kekasihnya yang tak pernah sedetikpun lepas dari genggamannya.

Cahaya silau perlahan menyusup masuk disela-sela bulu matanya. Dan sekarang cahaya silau berganti dengan cahaya terang. Di hadapannya terlihat wajah sang dokter. Genggaman tangannya seketika mengencang. Akhirnya pengelihatannya kembali. Akhirnya dia dapat melihat wajah kekasihnya. Seraut wajah yang sudah diangankan, yang sudah dia bayangkan dalam benaknya. Seraut wajah yang akan sangat serasi dengan perilaku sang empunya.

Sesaat setelah perban selesai dibuka oleh dokter, perlahan sang pemuda menoleh ke arah kekasihnya. Seorang kekasih yang selama ini setia berada di sisinya. Seorang kekasih yang telah membuatnya nekat melakukan pencakokan kornea.

Ketika tatapan matanya membentur sosok wanita yang jemarinya masih dia genggam erat, perlahan senyuman yang sedari tadi menghias wajahnya luruh. Genggaman tangan itu mengendur dan akhirnya terlepas. Wajah itu ….wajah itu tidak seperti yang ada di benaknya…..



 

Saturday, January 06, 2007

Dear diary,

Kuingin cerita kepadamu,
tentang dia yang dulu singgah di hatiku.
Sejak itu... hidupku jadi bahagia karena dia slalu ada di hidupku.
Tapi kini dia menghilang.... dan tak tahu entah dimana.
Diariku....
Ku merindukannya
Pujaanku.......
Kau ada dimana....?
Telah habis air mata dan segenap kata-kata telah kucurahkan.
Haruskah aku berlari sampai keujung dunia untuk mencarinya
Tapi kini dia menghilang dan tak tahu entah dimana
Diariku....
Ku merindukannya
Pujaanku.....
Kau ada dimana.....?

"Dear Diary by: Ratu"