Nyanthing

Berbagi indahnya hidup

Wednesday, November 29, 2006

BeTe

Pagi-pagi saya pergi ke pasar. Hari ini piket saya belanja. Seperti biasa, yang dituju adalah pedagang langganan. Kata ibu saya biar hari lebaran kita dikasih parsel (he...he... dasar bakul). Tapi sayangnya... roti pesanan ibu saya tidak ada di pedagang itu. Karena saya tipe pejuang sejati... saya berusaha nyari walau ke pedagang yang lain. Setelah tengok sana-tengok sini ketemu yang dicari saya langsung milih roti pisang keju yang satunya 450. Saya pilih 15, dalam hati saya udah ngitung berapa saya harus bayar, kira-kira 12 rb (awal bencana). Trus saya nyiapin uang 15 rb. Walau begitu saya nanya sama mas yang jualan, "Pinten mas"?
Dan dijawab,"nem setengah mbak".
Kok mleset sama itungan saya... Dalam pikiran saya kok murah sekali. Demi rasa kasihan saya sama mas penjual roti, biar nggak rugi karena siapa tahu masnya ngitungnya salah. Atau karena terpana sama saya trus grogi..(he...he...), saya bertanya,
"limolas lo mas". Trus tanpa saya duga ternyata mas itu salah terima. Dikiranya saya mau ngenyang harganya...
"mBok dihitung mbak" dengan nada nyolot.
"Mboten mas tak kira ki duite punjul seko sepeluh ewu je...".
Tertanya saya yang salah hitung. Maunya nulungi mase e.. malah saya kena semprot dia, hanya gara-gara misunderstanding jadi bete.

Thursday, November 16, 2006

Sprei

Benda yang satu ini membuat kita tidur lebih nyaman. Tapi ternyata nyaman saja masih belum cukup. Nilai estetikanya juga tak kalah penting. Keserasian sprei dengan warna dan tema kamar perlu diperhatikan. Tapi doktrin yang telah diberikan ibu saya, seprei adalah kain lebar yang dibentang di atas kasur untuk melindungi agar debu “kapuk” nya tidak “mubal” dan terhirup hidung saat kita tidur. Dipasang dengan cara membuat simpul di keempat ujungnya.
Dan sudah sejak lama memasang sprei adalah pekerjaan yang menyebalkan buat saya. Udah masangnya susah, kadang-kadang ukurannya nggak pas. Kalau kekecilan, ditarik ke atas bawah nggak tertutup, di tarik ke atas bawah “mlongo”. Bukan hal yang menyenangkan juga kalau ternyata spreinya kebesaran. Melipat ke bawah kasurnya susah dan rawan untuk bersarang ngengat, atau sisanya dibiarkan menjuntai jadi sarang debu. Kalau sudah begitu bisa-bisa satu bulan sprei nggak diganti. Gatel….? Nggak tau ya… Pasalnya setelah jadwal ganti sprei di-skip, saya memilih tidur di depan TV di ruang keluarga (he…he..).
Tapi pandangan itu jadi berubah sekarang. Ceritanya tiga hari sebelum lebaran saya diajak temen jalan ke Pasar Beringharjo. Temen mau nyari sprei. Sampai di sana temen saya sibuk milih warna dan corak yang sesuai dengan warna kamarnya. Yang nyebelin temen saya agak rewel, kalau warnanya cocok kainnya kurang halus, atau sebaliknya.
Saya akhirnya tertarik juga melihat sprei-sprei itu. Motif dan mutu kainnya sama dengan yang dijual di “Matahari” tapi dengan harga yang lumayan murah. Bagi saya memang harus ada yang dikorbankan. Nggak semua keinginan kita ada. Mau yang warnanya cocok, apa mutu kainnya. Karena memang adanya begitu.
Ukuran spreipun bermacam-macam, 100x200cm , 120x200cm, 180x200cm, dan masih juga ditambah ketebalannya 22,5cm untuk kasur “kapuk” atau busa yang biasa, dan 40 cm untuk springbed. Dan sudah diberi karet disetiap ujungnya. Padahal selama ini kalau ibu saya beli yang penting sprei besar atau kecil. Nggak pernah tahu ukuran tepat kasur masing-masing kamar. Dan hasilnya pun jelas selalu kebesaran.(ha..ha…maap Bu…)
Setelah saya ditanya ukuran berapa kasurnya, saya jadi bingung. Iya..ya saya nggak penah ngukur berapa lebar kasur saya. Akhirnya saya putuskan pilih yang ukuran 180x200cm. Karena saya pikir kasur saya lebar dan muat dua orang…(ehm….). Tapi dengan perjanjian kalo’ ternyata kebesaran atau kekecilan bisa ditukar.
Baru deh sampai rumah saya buru-buru ukur kasur saya. Masih belum percaya dengan hasil ukurnya kemasan sprei saya buka. Dan sprei saya pasang…olala… kebesaran sekali.
Keesokan harinya untuk menghindari macet dan panas, pagi-pagi saya ke Beringharjo buat nukar sprei. Ternyata harga 1 sprei ukuran 180x200cm dua kali lipat dari harga sprei 120x200cm (ukuran kasur saya). Walhasil maunya beli satu dapat dua deh….
Satu pelajaran yang saya dapat. Selain nomor ukuran underwear dan sepatu ternyata ukuran kasur kita juga perlu untuk diingat.
 

Wednesday, November 08, 2006

Ketupat Syawal…..

Datangnya bulan Syawal selalu excited buat saya. Sudah jadi tradisi di rumah bila Lebaran menjelang kesibukan akan dimulai dari H-2 siang. Biasanya ibu saya sudah beli janur kuning beberapa puluh lembar yang kemudian kami buat sendiri kelongsong ketupatnya.
Pak Wo lah orang yang selalu melakukan pekerjaan itu. Pak Wo adalah sebutan untuk mbah kakung saya dari bapak. Dari beliaulah saya belajar membuat kelongsong ketupat sambil “ngebuburit” di hari-hari puasa terakhir. Karena biasanya hari-hari terakhir puasa ngebuburit di Yogya sudah nggak ramai. Pasalnya yang jualan kolak sudah pada mudik.
Satu hal lagi yang istimewa, walaupun ada kompor gas, kompor minyak tanah, dan arang, Pak Wo lebih suka memasak ketupatnya memakai kayu bakar. Kelongsong ketupat diisi beras dan dimasak semalam suntuk supaya ketupatnya “tanak” sehingga tidak mudah basi.
Dan yang paling saya tunggu adalah cerita masa lalu pak Wo yang penuh dengan perjuangan selalu menyertai kegiatan ini. Kisah perjalanan “karier” pak Wo sebagai tukang “nuntun” sapi di sebuah jagalan itu bila diibaratkan sebuah komik, dalam imajinasi saya merupakan komik berwarna yang indah. Tangan kekar Pak Wo terbiasa “nggeret” belasan sapi, kaki kokohnya terbiasa berjalan dari Pasar Munggi, Pasar Prambanan, Pasar Pedan, dan Pasar Pengging sampai Jogja. Mata tajamnya terbiasa menemani berlalunya malam. Konon di pasar hewan ini juga Pak Wo bertemu calon besan yang pedagang kerbau. Walaupun kisah ini sudah diulang-ulangnya puluhan kali, saya dan adik-adik saya tak pernah bosan mendengarnya.
Hanya saja beberapa tahun terakhir ini tugas itu sudah diambilalih oleh ibu saya.
Mengingat kondisi kesehatan Pak Wo yang sudah payah, jari-jari tangan yang sudah kaku, dan kaki yang sudah tidak bisa menopang tubuhnya untuk berdiri kokoh,
Tidak ada lagi acara “telling story”, tidak ada lagi begadang menunggui matangnya ketupat , tetapi sekedar ketupat opor untuk “punjungan” para sesepuh dan hidangan di hari raya masih dilestarikan untuk memuliakan sanak saudara.
Gimana dengan ketupat syawal anda, walau taste-nya sama pasti mempunyai sense yang beda….


Monday, November 06, 2006

Sebuah awalan….

Sudah sejak lama sebenarnya keinginan untuk menulis menendang-nendang relung hati saya. Hanya seorang sahabat yang jauh di sana yang selalu setia memberikan semangat dan dorongan.
Semua cerita dan ide tertuang dalam email yang saya kirimkan padanya. Apa saja bisa tertuang di dalamnya, yang menjadi diskusi menarik diantara kami. Dan email-email itu tersusun rapi di tempatnya, tanpa ada yang terhapus.
Dari situlah keinginan untuk mengembangkan hobi menulis muncul. Upaya pengembangan kemampuan menulis dimulai dari ikutan milist penulis sampai sekarang ini rajin mengikuti pelatihan.
Hanya saja semua usaha itu sia-sia tanpa wujud nyata untuk menulis kepada publik, rasanya saya tetap tidak ada kemajuan. Namun bukan hal yang mudah juga bila diniatkan untuk membuat postingan, tiba-tiba semua buyar. Karena berharap hasil yang sempurna malah tidak menghasilkan sesuatu.
Lewat blog yang diberi tajuk"Nyanthing" ini saya berharap bisa menggoreskan indahnya kehidupan di sekitar saya. Dan setidaknya "Nyanthing" dapat memuaskan keinginan saya untuk menggapai mimpi yang selalu menghantui setiap tidur malam saya, inilah sebuah awalan.........